Hukum Multi Level Marketing (1/3)

Di tengah kelesuan dan keterpurukan ekonomi nasional, datanglah sebuah sistem bisnis yang banyak menjanjikan kesuksesan dan keberhasilan serta menawarkan kekayaan dalam waktu yang singkat. Sistem ini yang kemudian dikenal dengan istilah Multi Level Marketing (MLM) atau Networking Marketing.

Banyak orang yang bergabung ke dalamnya, baik dari kalangan orang-orang awam ataupun dari kalangan para penuntut ilmu, bahkan –dari berita yang sampai pada kami- ada sebagian pondok pesantren yang mengembangkan sistem ini untuk pengembangan usaha pesantren.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah bisnis dengan model semacam ini diperbolehkan secara syar’i ataukah tidak?

Sebuah permasalahan yang tidak mudah untuk menjawabnya, karena ini adalah masalah baru yang belum pernah disebutkan secara langsung dalam litelatur para ulama kita.

Namun Alhamdulillah Allah telah menyempurnakan syariat Islam ini untuk bisa menjawab semua permasalahan yang akan terjadi sampai esok hari kiamat dengan berbagai nash dan kaidah-kaidah umum tentang masalah bisnis dan ekonomi.

Oleh karena itu, dengan memohon petunjuk pada Allah, semoga tatkala tangan ini menulis dan akal berpikir, semoga Allah mencurahkan cahaya kebenaran-Nya dan menjauhkan dari segala tipu daya setan. Wallahul Muwaffiq.

Kaidah Penting Bagi Pelaku Bisnis
Ada dua kaidah yang sangat penting untuk bisa memahami hampir seluruh permasalahan yang berhubungan dengan hukum Islam, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim: “Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan muamalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarang.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1:344).

Dalil ibadah adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Dari Aisyah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak ada contohnya dari kami, maka akan tertolak’.” (HR. Muslim).

Adapun dalil masalah muamalah adalah firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا

Dia lah Allah yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah : 29).

Lihat Ilmu Ushul Al Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi, Al Qowa’id Al Fiqhiyah oleh Syaikh As Sa’di Hal. 58.

Oleh karena itu, apapun nama dan model bisnis tersebut pada dasarnya dihukumi halal selagi dilakukan atas dasar suka rela dan tidak mengandung salah satu unsur keharaman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275). Juga firman Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ
 
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu.” (QS. An Nisa’ : 29).

Adapun hal-hal yang bisa membuat sebuah transaksi bisnis itu menjadi haram adalah:

1.Riba.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :
 الربا ثلاث و سبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل أمه

Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata, “Rasulullah bersabda, Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri’.” (HR. Ahmad 15:69:230, lihat Shohihul Jami, 3375).

2.Gharar (adanya spekulasi yang tinggi) dan jahalah (adanya sesuatu yang tidak jelas).

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن بيع الغرر

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim, no.1513).

3. Penipuan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : مر رسول الله صلى الله عليه و سلم برجل يبيع طعاما فأدخل يده فيه
 فإذا هو مغشوش , فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ليس منا من غش
 
Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu. Maka beliau bersabda, ‘Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu’.” (HR. Muslim 1:99:102, Abu Dawud 3435, Ibnu Majah 2224).

4. Perjudian atau adu nasib. Firman Allah Ta’ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءاَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbutan setan, maka jauhilah.” (QS. Al Maidah : 90).

5. Kezaliman. sebagaimana firman Allah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.” (QS. An Nisa’: 29).

6. Yang dijual adalah barang haram.
 
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
 إن الله إذا حرم على قوم أكل شيئ حرم علبهم ثمنه

Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya’.” (HR. Abu Dawud 3477, Baihaqi 6:13 dengan sanad shohih).

Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Zadul Ma’ad Imam Ibnul Qoyyim 5:746, Taudlihul Ahkam Syaikh Abdulloh Alu Bassam 2:233, Ar Roudloh An Nadiyah 2:345, Al Wajiz Syaikh Abdul Adlim Al Badawi Hal. 332).

Bersambung..

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Sabiq, Lc.

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/hukum-multi-level-marketing-mlm-bagian-1-dari-3/#ixzz2IfTEpy4m



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger