Sikap Anak Kepada Orang Tua Yang Masih Kafir

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya yang masih kafir ? Kisah Sahabat Sa'ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu 'anhu dan ibunya dapat dijadikan sebagai pelajaran.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (Juz. IV hal. 1877 no. 1748 (43)), Diceritakan bahwa Ummu Sa'ad (ibunya Sa'ad) bersumpah tidak akan berbicara kepada anaknya dan tidak mau makan dan minum karena menginginkan Sa'ad murtad dari ajaran Islam.

Ummu Sa'ad mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya berkata, "Aku tahu Allah menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu dan aku menyuruhmu untuk keluar dari ajaran Islam ini". Kemudian selama tiga hari Ummu Sa'ad tidak makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa'ad untuk kufur.

Sebagai seorang anak Sa'ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. berkaitan dengan kisah Sa'ad ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan wahyu seperti yang terdapat pada surat Al-Ankabut ayat 8 .


وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ.

"Dan Kami berwasiat kepada manusia agar berbakti kepada orang tuanya dengan baik, dan apabila keduanya memaksa untuk menyekutukan Aku yang kamu tidak ada ilmu, maka janganlah taat kepada keduanya". Sedangkan wahyu yang kedua dalam surat Luqman ayat 15.


وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


"Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma'ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan". Turunnya ayat ini membuat Sa'ad semakin bertambah mantap keyakinannya dan akhirnya Sa'ad membuka mulut ibunya dan memaksa ibunya untuk makan. Dengan demikian Sa'ad tidak berbuat kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan juga bisa berbuat baik kepada ibunya.

Para Ulama mengambil dalil dari ayat ini tentang wajibnya berbakti dan bersilaturahmi kepada kedua orang tua meskipun keduanya masih kafir. Kafir yang dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi (kafir yang menentang dan memerangi Islam).

Jika orang tuanya tidak kafir harbi, tidak menyerang kaum muslimin, maka hendaklah bergaul dengan mereka dengan baik dan bersilaturahmi kepada keduanya. Hal tersebut didasarkan kepada surat Luqman ayat 15.


وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.

"Dan bergaul-lah kepada keduanya dalam kehidupan dunia dengan cara yang ma'ruf".

Kemudian dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak menyerang kita.


لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.


"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama. Dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil"[Al-Mumtahanah : 8].

Kisah ini terjadi pada Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika ibunya yang masih dalam keadaan musyrik akan datang untuk berkunjung kepadanya, Asma meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah kamu menyambung silaturahmi kepada ibumu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim].

Secara fitrah, seorang anak akan mencintai orang tuanya karena merekalah yang melahirkan serta mengurusnya, tapi jika mencintainya karena iman maka tidak dibenarkan. Dengan dasar surat Al-Mujadalah ayat 22.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung".

Jika keduanya kafir harbi, maka tidak boleh berbakti dan bersilaturahmi kepada keduanya dengan dasar surat Al-Mumtahanah ayat 9.

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama. Dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim".

Dengan demikian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kafir harbi atas dasar ayat tersebut. Bahkan seandainya bertemu di medan perang, diperbolehkan untuk dibunuh. Hal ini sudah pernah terjadi terhadap Abu Ubaidah Ibnul Jarrah dengan bapaknya pada waktu perang Badar. Bapaknya ikut di medan pertempuran dan berada di pihak kaum musyrikin kemudian Abu Ubaidah membunuhnya.

Timbul pertanyaan, "Bolehkah mendo'akan orang tua yang masih kafir?" Jawabnya adalah, baik kafir harbi atau bukan kafir harbi tidak diperbolehkan mendoakannya untuk memintakan ampun dan kasih sayang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ketika keduanya masih hidup maupun sudah meninggal. Dasarnya adalah surat At-Taubah ayat 113, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

" Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam".

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala supaya mengampuni dosa ibunya, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir [1] Kedua orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir [2] Kalau ada yang bertanya, "Bukankah pada saat itu belum diutus Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?" Saat itu sudah ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak masuk dalam millah Ibrahim sehingga keduanya masih dalam keadaan kafir [3].

Nabi Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk kedua orang tuanya yang masih kafir, karena pada waktu itu Ibrahim belum tahu dan belum turun wahyu tentang adanya larangan tersebut. Setelah turun wahyu, Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah ini bisa dilihat dalam surat At-Taubah ayat 114.

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

"Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya dan lagi menyantun".

Jika orang tua masih kafir tetapi bukan kafir harbi, maka diperbolehkan mendo'akan agar mereka diberikan hidayah. Dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi, ayat yang ke-8 tadi merupakan dalil tentang tetapnya menyambung tali silaturrahmi kepada orang tua yang masih kafir serta mendo'akan keduanya agar mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang haq.

Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua yang masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi. Jadi dakwah kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwahnya Ibarahim 'Alaihi Shalatu wa sallam kepada orang tuanya. Beliau mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan kata-kata yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak kafir tetapi masih suka melakukan bid'ah, harus didakwahkan dengan kata-kata lebih lemah lembut lagi.

Sikap Nabi Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam surat Maryam ayat 41-48.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

"Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab Al-Qur'an, sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi"

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, "Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun juga"

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

"Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus"

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

"Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah".

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

"Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Berkata bapaknya, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama".

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Ibrahim berkata, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu aku akan meminta ampun bagimu kepada Allah sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku".

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

"Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan berdo'a kepada Rabb-ku mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo'a kepada Rabb-ku".

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Darul Qolam. Komplek Depkes Jl. Raya Rawa Bambu Blok A2, Pasar Minggu - Jakarta. Cetakan I Th 1422H /2002M].
________
Footnote.
[1]. Hadits Riwayat Muslim Kitabul Jazaaiz 2 hal.671 no. 976-977, Abu Dawud 3234, Nasa'i 4 hal. 90 dll
[2]. Dalilnya, ada seorang bertanya, "Ya Rasulullah ! Dimana Ayahku" Jawab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ayahmu di Neraka". Ketika orang itu akan pergi, dipanggil lagi, beliau bersabda, "Ayahku dan ayahmu di neraka" [Hadits Shahih Riwayat Muslim Kitabul Iman I/191 no. 203, Abu Dawud no. 4718 Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 7/190] Pada riwayat yang lain, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada kedua anak Mulaikah, "Ibu kamu di Neraka", keduanya belum bisa menerima, lalu Nabi panggil dan beliau bersabda, "Sesungguhnya ibuku bersama ibumu di Neraka" [Thabrani dalam Mu'jam Kabir (10/98-99 no. 10017)], Hakim 4/364.
[3]. Lihat, Adillah Mu'taqad Abi Hanifah fil A'zham fii Abawayir Rasul Alaihis Shalatu wa Salam ta'lif Al-'Alamah Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qary (wafat 1014).

http://almanhaj.or.id/content/1327/slash/0/sikap-anak-kepada-orang-tua-yang-masih-kafir/
»»  READMORE...


Ahlul Fatrah

Ahlul-Fatrah adalah istilah yang dipergunakan untuk orang-orang yang meninggal sebelum datang kepada mereka Rasul yang memberi kabar gembira dan peringatan.

Era ahlul-fatrah ini telah habis setelah diutusnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata tentang tafsir ayat,

وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا
“dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya” (QS. Aali ‘Imraan : 103),

برسالة محمد صلى الله عليه وسلم لم يبق عذر لأحد، فكلّ من لم يؤمن به فليس بينه وبين النار إلّا أن يموت، كما بيّنه تعالى بقوله : (وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ) [هود : ١٧].

“Dengan risalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tersisa udzur bagi seorang pun. Setiap orang yang tidak beriman dengannya, maka antara dia dan neraka adalah kematian [1], sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dengan firman-Nya : ‘Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur'an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya’ (QS. Huud : 17)”.[2].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya. Tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk penduduk neraka”.[3].

Akan tetapi di sini akan dijelaskan beberapa hal yang berkenaan dengan hukum ahlul-fatrah sebagai berikut :
  • Hukum ahlul-fatrah di dunia adalah kafir karena mereka tidak beragama dengan agama yang benar.
  • Setiap orang yang masuk neraka dari kalangan mereka (ahlul-fatrah) dan dari kalangan selain mereka, pasti didasarkan oleh hujjah Allah ta’ala yang telah tegak kepada mereka. Hal itu sesuai dengan firman-Nya ta’ala :
مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul” [QS. Al-Israa’ : 15].
  • Kita tidak memutuskan/memastikan mereka masuk neraka, akan tetapi mereka akan diuji di hari kiamat di ‘halaman’ (antara surga dan neraka). Barangsiapa yang taat akan masuk surga, dan di sana lah ilmu Allah akan tersingkap melalui orang yang telah mendapatkan kebahagiaan. Barangsiapa yang durhaka, akan masuk neraka dalam keadaan hina, dan akan tersingkap ilmu Allah melalui orang yang telah mendapatkan kesengsaraan/kecelakaan.
Ini adalah hukum ahlul-fatrah menurut Ahlus-Sunnah.[4] Dan asas dalam permasalahan ini adalah penjamakan nash-nash yang berbicara tentang mereka. Adapun orang yang hanya berpegang hanya pada satu nash saja, maka hasil penghukumannya jauh dari kebenaran.

An-Nawawiy rahimahullah berpendapat bahwa orang kafir masuk neraka meskipun ia mati pada jaman fatrah. Pendapat tersebut dibangun berdasarkan penunjukkan sebagian hadits tentang disiksanya sebagian ahlul-fatrah.[5].

Sekelompok ulama berpendapat bahwa letak diberikannya ‘udzur akan masa fatrah yang dinashkan dalam firman Allah ta’ala :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” [QS. Al-Israa’ : 15]. Dan ayat semisalnya adalah tidak jelas, yang tidak diterima oleh orang berakal. Adapun pernyataan yang jelas yang tidak menimbulkan keraguan bagi orang yang berakal seperti menyembah berhala-berhala. Maka yang seperti ini tidak diberikan udzur.

Sebagian yang lain berpendapat bahwasannya ahlul-fatrah diadzab di akhirat, karena mereka masih memiliki sisa-sisa peringatan (syari’at) yang dibawa para Rasul yang datang sebelum Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga menjadi hujjah bagi mereka.[6].

Dan ini adalah pendapat terakhir yang berbeda dengan pendapat-pendapat sebelumnya, yang didasari banyak dalil, di antaranya firman Allah ta’ala :

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ

“Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan” [QS. Yaasiin : 6].

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ.

“Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia Muhammad mengada-adakannya". Sebenarnya Al Qur'an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu” [QS. As-Sajdah : 3].

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَكِنْ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ.

“Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu” [QS. Al-Qashshash : 46].

وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ.

Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun” [QS. Saba’ : 44].
dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan tidak adanya orang yang memberikan peringatan pada mereka.[7].

Sisi penjamakan di antara dalil-dalil sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syinqithiy[8]rahimahullah bahwasannya pemberian udzur kepada mereka karena masa fatrah dan diujinya mereka di hari kiamat adalah dengan melewati api/neraka, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Al-Aswad bin Sarii’, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda :

أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، فَأَمَّا الأَصَمُّ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ، وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا، وَأَمَّا الأَحْمَقُ، فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونَنِي بِالْبَعَرِ، وَأَمَّا الْهَرِمُ، فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَمَا أَعْقِلُ، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ رَسُولا أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ، قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلامًا.

Ada empat orang yang akan berhujjah (beralasan) kelak di hari kiamat : (1) orang tuli, (2) orang idiot, (3) orang pikun, dan (4) orang yang mati dalam masa fatrah. Orang yang tuli akan berkata : ‘Wahai Rabb, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak mendengarnya sama sekali'. Orang yang idiot akan berkata : ‘Wahai Rabb, sungguh Islam telah datang, namun anak-anak melempariku dengan kotoran hewan'. Orang yang pikun akan berkata : ‘Wahai Rabb, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak dapat memahaminya'. Adapun orang yang mati dalam masa fatrah akan berkata : ‘Wahai Rabb, tidak ada satu pun utusan-Mu yang datang kepadaku’. Maka diambillah perjanjian mereka untuk mentaati-Nya. Diutuslah kepada mereka seorang Rasul yang memerintahkan mereka agar masuk ke dalam api/neraka”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka akan merasakan dingin dan selamat”.[9].

Hadits ini shahih dan merupakan nash dalam permasalahan ini. Barangsiapa yang melewati neraka, akan masuk surga. Ia termasuk orang yang membenarkan Rasul seandainya datang kepadanya di dunia. Dan barangsiapa yang enggan, ia akan diadzab di neraka. Ia termasuk orang yang mendustakan Rasul seandainya datang kepadanya di dunia; karena Allah Maha Mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya datang kepada mereka seorang Rasul.

Al-Imaam Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata :

وبهذا الجمع تتّفق الأدلّة فيكون أهل الفترة معذورين، وقوم منهم من أهل النار بعد الامتحان، وقوم منهم من أهل الجنة بعده أيضا، ويحمل كل واحد من القولين على بعض منهم علم الله مصترهم، وأعلم به نبيه صلى الله عليه وسلم فيزول التعارض.

Dengan cara penjamakan ini, dalil-dalil menjadi berkesesuaian sehingga ahlul-fatrahtermasuk orang-orang yang diberikan ‘udzur. Sebagian dari mereka termasuk ahli neraka setelah diuji, dan sebagian dari mereka termasuk ahli surga setelah diuji pula. Dan masing-masing dari dua pendapat tersebut dipahami bahwa sebagian di antara mereka mengetahui bahwa Allah tempat kembali mereka, dan mengetahui dengannya bahwa Nabinya adalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.[10] Dengan demikian, hilanglah pertentangan/kontradiktif yang ada”.[11].

Kaedah pemberian ‘udzur serta tidak adanya balasan siksa hingga tegak padanya hujjah sebagaimana berkaitan dengan pokok agama, yaitu meninggalkan keimanan tidak akan dihukum kecuali setelah sampainya seruan syari’at. Seandainya hal itu terjadi dalam perkara selain pokok agama,tentu lebih pantas untuk diberikan údzur.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penegakan hujjah terhadap orang yang melakukan penyimpangan pada sebagian perkara agama adalah penting.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[abul-jauzaa’ – diambil dari Al-Jahl bi-Masaailil-I’tiqaad oleh ‘Abdurrazzaaq bin Thaahir bin Ma’aasy, hal. 209-215; Daarul-Wathan, Cet. 1/1417 H] - ada baiknya jika Anda juga membaca : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html .

______________
[1] Maksudnya, jika ia meninggal, maka masuk neraka.- Abul-Jauzaa’
[2] Adlwaaul-Bayaan (Daf’ul-Iihaam Al-Idlthiraab ‘an Aayaatil-Kitaab), 10/66-67. Akan tetapi ini tidaklah menafikkan keberadaan orang-orang yang dihukumi sebagai ahlul-fatrah di jaman ini, sebagaimana mereka yang hidup di tengah hutan atau di tempat-tempat terpencil. Akan tetapi hukum umum tetap dinyatakan tidak ada fatrah setelah pengutusan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau diutus untuk seluruh manusia.Wallaahu a’lam.
[3] Diriwayatkan oleh Muslim no. 153.
[4] Al-Haafidh Abu ‘Umar bin ‘Abdil-Barr rahimahullah menyelisihi dalam permasalahan ini, karena ia melihat hadits-hadits dalam hal ini tidak kuat sehingga tidak layak dipergunakan sebagai hujjah; sebagaimana bahwa akhirat itu tempat pembalasan, bukan tempat cobaan dan ujian. Beliau rahimahullah berkata :

وجملة القول في أحاديث هذا الباب كلها ما ذكرت منها وما لم أذكر أنها من أحاديث الشيوخ، وفيها علل، وليست من أحاديث الأئمة الفقهاء، وهو أصل العظيم، والقطع فيه بمثل هذه الأحاديث ضعف في العلم والنظر...

“Dan beberapa perkataan tentang semua hadits pada bab ini baik yang telah aku sebutkan maupun yang tidak aku sebutkan, merupakan hadits-hadits para syaikh. Padanya terdapat cacat (‘ilal). Hadits-hadits itu bukan termasuk hadits-hadits para imam dan fuqahaa’, padahal ia termasuk pokok agama yang sangat besar. Dan keputusan hukum yang didasarkan terhadap hadits-hadits semisal itu adalah kelemahan dalam ilmu dan akal…” [At-Tamhiid, 18/130].
Al-Imaam Ibnu Katsiir rahimahullah membantah pendapat ini dalam Tafsir-nya (5/55) dengan dua perkara :
a. Hadits-hadits dalam bab ini ada yang shahih, hasan, ataupun dla’iif yang dikuatkan dengan hadits shahih dan hasan. Seandainya hadits-hadits dalam satu bab bertingkat-tingkat seperti ini, dapat dijadikan hujjah menurut para ulama.
b. Bahwasannya perintah yang tertulis adalah di masa-masa permulaan hari kiamat, ini tidak ada halangannya; berdasarkan firman Allah ta’ala :

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa” [QS. Al-Qalam : 42].

[5] Syarh Muslim lin-Nawawiy, 3/97.
[6] Idem.
[7] Lihat pendapat-pendapat tentang ahlul-fatrah : At-Tamhiid oleh Ibnu ‘Abdil-Barr (18/127-130), tafsir Ibni Katsiir (5/50-56), dan Adlwaaul-Bayaan oleh Asy-Syinqithiy (10/178-186).
[8] Lihat : Adlwaaul-Bayaan (Daf’u Iihaam Al-Idlthiraab ‘an aayaatil-Kitaab), 10/185-186.
[9] Diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya (4/24), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (16/356 no. 7357), Al-Bazzaar sebagaimana dalam Kasyful-Astaar (3/33 no. 2174), Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir (1/287 no. 841), Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush-Shahaabah (2/281 no. 900) dari jalan Al-Hasan dan Al-Ahnaf bin Qais, keduanya dari Al-Aswad bin Sarii’. Al-Haitsamiy dalam Al-Majma’ berkata : “Rijaal Ahmad dalam jalan Al-Aswad bin Surai’ dan Abu Hurairah termasuk rijaal Ash-Shahiih. Begitu juga rijaal Al-Bazzaar”. Dan matannya mempunyaisyaahid dari hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy dan Anas sebagaimana terdapat dalam Al-Majma’(7/218) dengan sanad-sanad dla’iif namun menguatkan satu dengan yang lainnya.
[10] Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim (1/191 no. 347) :

عن أنس أنّ رجلا قال : يا رسول الله، أين أبي ؟، قال : في النار، فلما قفّى دعاه فقال : إن أبي وأباك في النار

Dari Anas : Bahwasnanya ada seorang laki-laki bertanya : “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (sekarang yang telah meninggal) ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang itu menyingkir, maka beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”.
[11] Adlwaaul-Bayaan (Daf’u Iihaam Al-Idlthiraab ‘an Aayaatil-Qur’aan) 10/185.

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/ahlul-fatrah.html
»»  READMORE...


Kedua Orang Tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di Neraka ?

Oleh Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- (Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel).

Sebuah kenyataan yang sering luput dari wawasan kita bahwa kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- ternyata meninggal dalam keadaan kafir dan kelak akan kekal di dalam neraka!! Sebuah realita yang mungkin terasa pahit dan sulit diterima oleh sebagian orang jahiltentang sunnah dan berita dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Adapun orang yang beriman kepada beliau, maka mereka membenarkan berita yang beliau sampaikan bahwa kedua orang tua beliau di neraka.

Tulisan ini kami angkat, karena pernah lewat di telinga kami bahwa sebagian orang tidak percaya jika kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- akan dimasukkan ke dalam neraka. Pengingkaran mereka ini didasari oleh perasaan dan taklid buta.

Diantara mereka yang mengingkari keberadaan orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di neraka, seorang Penulis dan Wartawan Republika, Nashih Nashrullah [1] saat ia menulis sebuah tulisan aneh dengan judul“Apakah Kedua Orang Tua Rasulullah SAW akan Masuk Surga?[2].

Si Wartawan ini membawakan khilaf dalam perkara ini, lalu menguatkan salah satu dari keduanya bahwa kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- akan masuk surga. Semuanya tanpa hujjah yang dapat dipertanggungjawabkan. Tak satu dalil pun yang ia bawakan dapat menyokong dirinya. Ia hanya menukil beberapa nama dan ucapan ulama yang masih mungkin untuk diperdebatkan oleh setiap orang yang menanggapinya.[3].

Nashih Nashrullah berusaha menguatkan pendapat itu dengan berbagai syubhat yang akan kami sanggah -insya Allah- di akhir tulisan ini, sehingga anda mengetahui kelemahan hujjahnya!! Dalam tulisannya, ia hanya berpegang dengan ucapan sebagian ulama, tanpa berpegang dengan hujjah yang kuat dan gamblang!!!.

Ulama dalam berijtihad, mungkin salah dan benar. Jika ia salah karena menyelisihi dalil, maka kita tinggalkan ucapannya [4]. Jika ia benar karena mencocoki kebenaran, maka kita terima karena dalil kebenaran yang ia pegangi, bukan karena ia seorang ulama.

Inilah yang pernah dikatakan oleh Al-Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijrah dalam sebuah ucapannya yang patut diabadikan dengan tinta emas,

كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلاَّ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ.

“Setiap orang boleh diambil ucapan dan pendapatnya, dan juga boleh ditinggalkan, kecuali penghuni kubur ini”.[5] Maksud beliau adalah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Para pembaca yang budiman, jika kita meneliti kitab-kitab hadits dan aqidah, maka pendapat yang benar dan dikuatkan oleh dalil adalah pendapat yang menyatakan bahwa kedua orang Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah kafir dan akan masuk neraka.

Sebagai beban ilmiah di pundak kami, kini kami akan turunkan sejumlah dalil yang mendasari pendapat yang kuat ini agar para pembaca tak lagi ragu tentang kebenarannya setelah datangnya dalil dan hujjah.

Dalil Pertama
Dari Sahabat Anas -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِى؟ قَالَ: « فِى النَّارِ ». فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: « إِنَّ أَبِى وَأَبَاكَ فِى النَّارِ ».

“Seorang lelaki pernah berkata, “Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?” Beliau menjawab, “Di neraka”. Tatkala orang itu berbalik pergi, maka beliau memanggilnya seraya bersabda, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 203)].

Ini merupakan dalil shohih yang amat gamblang dalam menetapkan eksistensi (keberadaan) orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- ketika di akhirat nanti. Tentunya beliau menyatakan demikian, karena beliau mendapatkan wahyu dari Allah -Ta’ala-.

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Imam An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,

فيه أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة فان هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة ابراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم وقوله صلى الله عليه و سلم أن أبي وأباك في النار هو من حسن العشرة للتسلية بالاشتراك في المصيبة

“Di dalam hadits ini (terdapat keterangan) bahwa barangsiapa yang mati di atas kekafiran, maka ia di neraka dan kekerabatan orang-orang dekat tak akan memberikannya manfaat. Di dalam hadits ini (terdapat keterangan) bahwa yang mati di masa “fatroh” (vakum) di atas sesuatu yang dipijaki oleh bangsa Arab berupa penyembahan berhala, maka ia termasuk penduduk neraka. Ini bukanlah hukuman sebelum sampainya dakwah. Karena, mereka itu sungguh telah dicapai dakwahnya Ibrahim dan selainnya dari kalangan para nabi –sholawatullahi ta’ala wa salamuhu alaihim-. Sabda beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu dalam neraka”, termasuk bentuk pergaulan yang baik demi menghibur karena adanya kesamaan (antara bapak beliau dan bapak orang itu) dalam sebuah musibah”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibnil Hajjaj (3/79)].

Disini kita mendapatkan sebuah faedah bahwa tidak semua ahlul fatroh (orang yang berada di masa vakum), mendapatkan udzur di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Jika suatu kaum vakum dari seorang rasul, dalam artian bahwa tak ada diantara mereka seorang rasul hidup bersama dengan mereka, namun mereka masih mendapatkan syariat dan risalah mereka dari para pengikut mereka, maka dalam kondisi seperti ini ahlul fatroh tak memiliki udzur di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Inilah kondisi kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Betul di zaman orang tua beliau tak ada lagi rasul, tapi risalah dan syariat Ibrahim masih terwarisi dan dipertahankan oleh kaum hunafa’. Dengan ini, hujjah telah sampai kepada mereka.

Ahlul fatroh yang kedua, mereka yang betul-betul kosong dari rasul dan risalah mereka. Jadi, mereka tak pernah mendengar, melihat, dan hidup bersama dengan seorang sebagaimana halnya risalah dan syariat seorang rasul tak pernah sampai kepada mereka. Mereka ini –menurut pendapat yang kuat- urusannya akan dikembalikan kepada Allah dan di akhirat kelak mereka diuji dengan api. Jika mereka memasuki api yang Allah siapkan sebagai ujian bagi mereka, maka mereka akan masuk surga. Sebab itu adalah tanda bahwa andaikan sampai kepada mereka suatu agama, syariat dan kerasulan, maka pasti mereka akan menaati dan mengikutinya

Sebaliknya jika mereka diperintahkan masuk ke dalam api tersebut, namun mereka enggan masuk, maka kelak mereka akan masuk neraka. Karena dengan ujian itu, tampaklah bahwa andai ada agama atau rasul yang datang kepada mereka, maka pasti mereka akan menolaknya.

Orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah ahlul fatroh jenis kedua ini, bahkan ia tergolong dalam jenis pertama di atas!!.

Jenis kedua inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah -Ta’ala-,
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً [الإسراء/15]

“Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul”
. (QS. Al-Israa’ : 15).

Para pembaca yang budiman, jawaban Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada orang itu bahwa bapak beliau dan bapak orang itu sama-sama dalam neraka, juga telah diisyaratkan dalam hadits yang lain !.

Dalil Kedua :
Kini tiba saatnya kami bawakan hadits dan dalil kedua yang semakna dengan hadits di atas, walaupun sebagian orang menyangkanya bertentangan. Andaikan demikian, maka kita dahulukan hadits pertama berdasarkan penjelasan dalam bantahan kami kepada Ust. Nashih di akhir tulisan ini, insya Allah.

Dari Ibnu Umar -radhiyallahu anhuma-, ia berkata,

جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله إن أبي كان يصل الرحم وكان وكان . فأين هو ؟ قال ( في النار ) قال فكأنه وجد من ذلك . فقال يا رسول الله فأين أبوك ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( حيثما مررت بقبر مشرك فبشره بالنار ) قال فأسلم الأعرابي بعد . وقال لقد كلفني رسول الله صلى الله عليه و سلم تعبا . ما مررت بقبر كافر إلا بشرته بالنار

“Seorang badui pernah datang kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata, “Sesungguhnya bapakku dahulu menyambung kekerabatan, begini dan begini. Nah, dimanakah ia? Beliau bersabda, “Di neraka”. Ia (Ibnu Umar) berkata, “Seakan-akan orang badui itu bersedih karena hal itu. Kemudian orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, dimanakah bapakmu?” Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Dimana pun engkau melewati kubur seorang musyrik, maka kabarilah ia dengan neraka”. Ia (Ibnu Umar berkata, “Lalu orang badui itu masuk Islam setelah itu seraya berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sungguh telah membebaniku dengan kepayahan; tidaklah aku melewati sebuah kubur orang kafir, kecuali aku kabari dengan neraka”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 1573). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 18)].

Ini merupakan dalil yang amat gamblang menerangkan bahwa kaum kafir yang meninggal di atas kekafiran dan kesyirikannya, maka ia akan disiksa dalam neraka, walaupun ia tergolong kaum yang vakum dari kenabian, sepanjang hujjah telah tegak diantara mereka!!.

Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah- berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa barangsiapa yang mati musyrik, maka ia di neraka, walaupun ia mati sebelum diutusnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Karena, kaum musyrikin sungguh telah mengubah Al-Hanifiyyah (Islam), agama Ibrahim, mereka menggantinya dengan kesyirikan dan melakukannya, sedang mereka tak ada hujjah yang mengiringinya dari Allah tentang hal itu.

Keburukan syirik dan ancaman atasnya dengan neraka, senantiasa diketahui dari agama para rasul seluruhnya dari orang yang paling diantara mereka sampai yang terakhir. Berita-berita hukuman Allah bagi pelakunya telah tersebar di antara umat-umat dari suatu generasi ke generasi lain. Allah memiliki hujjah yang dalam atas kaum musyrikin dalam setiap waktu”. [Lihat Zaadul Ma'ad (3/599)].

Dari penjelasan Ibnul Qoyyim, nyatalah bagi anda kebatilan sebagian orang yang menyangka bahwa ahlul fatroh yang vakum dari kenabian adalah kaum yang tak akan disiksa, walaupun masih ada ajaran para nabi!!.

Kondisi Quraisy bukanlah seperti yang digambarkan oleh sebagian orang bahwa mereka betul-betul kosong dari hujjah dan risalah Islam yang pernah diajarkan oleh nabi sebelumnya. Andaikan tak ada hujjah yang tersisa, maka manusia tak akan mengenal “Kaum Hanifiyyah” atau “Hunafa’” yang masih mempertahankan ajaran Islam dari nabi mereka!!!.

Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya orang-orang jahiliah yang mati sebelum diutusnya beliau –alaihish sholatu was salam- akan disiksa dengan sebab kesyirikan dan kekafiran mereka. Hal itu menunjukkan bahwa mereka bukanlah termasuk ahlul fatroh yang belum pernah dicapai oleh dakwah seorang nabi, berbeda dengan sesuatu yang disangka oleh sebagian orang belakangan”. [Lihat As-Silsilah Ash-Shohihah (1/297)].

Dalil Ketiga :
Para pembaca yang budiman, dalil yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- akan masuk neraka, sebuah hadits dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

أَتَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى تَعَالَى عَلَى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى فَاسْتَأْذَنْتُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ بِالْمَوْتِ ».

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mendatangi kubur ibunya. Beliau pun menangis dan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya juga menangis. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Tuhan-ku -Ta’ala- agar aku memohonkan ampunan baginya. Namun aku tak diizinkan. Kemudian aku meminta izin agar aku dapat menziarahi kuburnya, lalu Allah izinkan bagiku. Jadi, ziarahilah kuburan, karena ia akan mengingatkan tentang kematian”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 976), Abu Dawud dalamSunan-nya (3234), An-Nasa'iy dalam Sunan-nya (2034), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1572) dan lainnya].

Dari Buraidah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

(كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم [ في سفر، وفي رواية: في غزوة الفتح ].فنزل بنا ونحن معه قريب من ألف راكب، فصلى ركعتين، ثم أقبل علينا بوجهه وعيناه تذرفان، فقام إليه عمر بن الخطاب، ففداه بالاب والام، يقول: يا رسول لله مالك؟ قال: إني سألت ربي عز وجل في الاستغفار لامي، فلم يأذن لي، فدمعت عيناي رحمة لها من النار، [ واستأذنت ربي في زيارتها فأذن لي ]، وإني كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها، ولتزدكم زيارتها خيرا).

“Dahulu kami bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (dalam suatu safar. Dalam riwayat lain, pada Perang Penaklukan Kota Makkah). Kemudian beliau pun singgah bersama kami. Sedang kami bersama beliau hampir seribu pengendara. Kemudian beliau sholat dua rakaat, lalu menghadapkan wajahnya kepada kami, sedang kedua matanya bercucuran. Lalu berdirilah Umar bin Al-Khoththob kepada beliau, seraya menebus beliau dengan ayah dan ibunya. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, kenapakah anda?” Beliau bersabda, “Aku memohon kepada Tuhan-ku -Azza wa Jalla- untuk memohonkan ampunan bagi ibuku. Namun Dia tak mengizinkan aku. Karenanya, kedua mataku bercucuran, karena kasihan kepadanya terhadap neraka; dan aku meminta izin kepada Tuhan-ku untuk menziarahinya. Lalu Dia mengizinkan aku. Sesungguhnya dahulu melarang kalian dari ziarah kubur. Ziarahilah (sekarang) kuburan. Sungguh ziarah kubur akan memberikan tambahan kebaikan kepada kalian”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/355, 357 dan 359), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf(4/139), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/376), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (791) dan lainnya. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ahkam Al-Jana'iz (hal. 188)].

Kematian orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di atas kekafiran menyebabkan ayah dan ibu beliau masuk ke neraka. Mereka telah mati di atas kemusyrikan dan tidak mengikuti agama Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul.

Seorang ulama Syafi’iyyah yang masyhur, Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan sebab keduanya masuk neraka, usai membawakan beberapa hadits di atas,

وكيف لا يكون أبواه وجده بهذه الصفة في الآخرة وكانوا يعبدون الوثن حتى ماتوا ولم يدينوا دين عيسى بن مريم عليه السلام وأمرهم لا يقدح في نسب رسول الله لأن أنكحة الكفار صحيحة ألا تراهم يسلمون مع زوجاتهم فلا يلزمهم تجديد العقد ولا مفارقتهن إذا كان مثله يجوز في الإسلام وبالله التوفيق.

“Bagaimana tidak kedua orang tua beliau dalam gambaran seperti ini di akhirat. Dahulu mereka (kaum Quraisy) menyembah berhala dan tidak mengikuti agama Isa bin Maryam –alaihis salam-. Urusan mereka (demikian halnya) tidaklah menodai nasab Rasulullah. Karena, pernikahan orang kafir adalah sah. Tidakkah kalian melihat mereka masuk Islam bersama istri-istri mereka. Mereka tidaklah diharuskan memperbaharui akad nikah dan tidak pula menceraikan mereka, jika semisalnya boleh dalam Islam. Wa billahit tawfiq”. [Lihat Dala'il An-Nubuwwah (1/192-193)].

Para pembaca yang budiman, terlarangnya beliau mendoakan ampunan bagi ibunya, disebabkan ibu beliau kafir!! Andaikan tak kafir, maka tak mungkin beliau akan dilarang memohonkan ampunan bagi sang ibu yang telah melahirkannya.

Al-Imam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harroniy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata tentang tata cara ziarah kubur, sebelum membawakan hadits di atas,

وإنما كانوا يزورونه إن كان مؤمنا للدعاء له والاستغفار كما يصلون على جنازته وإن كان غير مسلم زاروه رقة عليه كما زار النبي صلى الله عليه وسلم قبر أمه فبكى وأبكى من حوله.

“Hanyalah mereka (para salaf) dahulu menziarahi kubur –jika si mayit mukmin-, maka untuk mendoakan kebaikan dan ampunan baginya, sebagaimana halnya mereka menyolati jenazahnya. Jika ia bukan muslim, maka mereka (para salaf) menziarahinya, karena kasihan kepadanya, sebagaimana halnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menziarahi kubur ibunya. Akhirnya, beliau menangis dan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya jadi menangis”. [Lihat Ar-Rodd ala Al-Akhna'iy (hal. 179), cet. Al-Mathba'ah As-Salafiyyah, dengantahqiq Al-Mu'allimiy].

Jadi, seorang muslim terlarang keras mendoakan ampunan bagi kaum kafir, walaupun mereka adalah orang tua dan kerabat kita.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman menjelaskan larangan itu,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأَوَّاهٌ حَلِيمٌ (114) [التوبة/113، 114].

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun”. (QS. At-Taubah : 113-114).

Dalil Keempat
Sebagian ulama membawakan hadits lain dalam menetapkan aqidah bahwa orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- akan masuk ke neraka.[6] Dari Abu Rozin Al-Uqoiliy -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

قلت: رسول الله أين أمي، قال: أمك في النار، قال: قلت فأين من مضى من أهلك، قال: أما ترضى أن تكون أمك مع أمي.

“Aku katakan, “Wahai Rasulullah, dimanakah ibuku?” Beliau bersabda, “Ibumu di neraka”. Ia (Abu Rozin) berkata, “Aku katakan, “Lalu diamanakah keluargamu yang telah lalu?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau ridho jika ibumu bersama ibuku”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/11), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (1090), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (417), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (638). Syaikh Al-Albaniy menyatakannya shohih dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 344)].

Inilah sejumlah dalil yang menguatkan pendapat para ulama yang menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah kafir dan akan masuk neraka.

Dengan sejumlah dalil ini, maka runtuhlah pendapat yang menyatakan bahwa kedua orang tua beliau adalah muslim dan akan masuk surga!!
Catatan Khusus Buat Ust. Nashih Nashrullah

Terakhir, kami akan utarakan beberapa catatan khusus bagi tulisan Nashih Nashrullah dalam Republika.co.id agar semakin jelas kekuatan pendapat yang kami kuatkan sekaligus sebagai jawaban atas beberapa syubhat yang dilontarkan oleh si Penulis tersebut.

Ust. Nashih berkata
“Tetapi, di sisi lain ada satu fakta bahwa kedua orang tua Nabi hidup pada masa kevakuman seorang nabi dan rasul. Pasca meninggalnya Nabi Isa AS belum ada lagi sosok Rasul yang diutus untuk berdakwah dan membimbing segenap umat. Karena itu, mereka yang berada pada periode kekosongan risalah itu dinyatakan selamat dan tidak mendapat siksa. “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isra’ [17]: 15)”.

Jawab :
Kami telah jelaskan bahwa ahlul fatroh (orang yang berada di masa vakum) ada dua jenis: ada yang diberi udzur dan ada yang tidak.

Jika suatu kaum berada dalam kevakuman dari seorang rasul, dalam artian bahwa tak ada diantara mereka seorang rasul hidup bersama dengan mereka, namun mereka masih mendapatkan syariat dan risalah mereka dari para pengikut mereka, maka dalam kondisi seperti ini ahlul fatroh tak memiliki udzur di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Inilah kondisi kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Betul di zaman orang tua beliau tak lagi rasul, tapi risalah dan syariat Ibrahim masih terwarisi dan dipertahankan oleh kaum hunafa’. Dengan ini, hujjah telah sampai kepada mereka.

Ust. Nashih berkata,“Namun Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, menyanggah keras pernyataan Syekh Abdullah bin Baz tersebut. Menurut lembaga yang pernah dipimpin oleh Mufti Agung Syekh Ali Juma’h itu, pernyataan bahwa kedua orang tua Rasul termasuk kufur dan akan menghuni neraka merupakan bentuk arogansi dan ketidaksopanan”.

Jawab:
Khilaf di kalangan ulama adalah perkara yang sering terjadi, sehingga pernyataan kafirnya orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tak boleh kita nilai sebagai sikap arogansi dan ketidaksopanan. Apalagi pendapat itu didasari oleh sejumlah dalil yang telah kami utarakan di atas. Justru sikap arogansi itu –andaikan boleh menuduh- ada pada orang yang menyatakan bahwa orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- muslim dan masuk surga, tanpa disertai dalil yang menetapkannya!!.

Ust. Nashih berkata“Justru fakta kuat mengatakan, kedua orang Rasul akan selamat dan bukan termasuk penghuni neraka. Pendapat ini menjadi kesepakatan mayoritas ulama. Tak sedikit ulama yang secara khusus menulis risalah sederhana untuk menjawab kegamangan menyikapi topik ini”.

Jawab:
Bagaimana mungkin pendapat yang dikuatkan oleh Ust. Nashih menjadi ijma’ (kesepakatan) ulama, sementara pendapat itu tak didasari oleh sebuah dalil yang kuat dan jelas. Ijma’ itu dibangun di atas dalil dan hujjah. Yang menunjukkan bahwa perkara ini bukan ijma’, adanya dua kubu ulama dalam hal ini sebagaimana yang kita lihat dalam tulisan kami dan juga di awal tulisan Ust. Nashih.

Adapun adanya ulama yang menulis dan mendukung pendapat yang dikuatkan oleh Ust. Nashih, maka itu bukan hujjah yang dapat menguatkan pendapatnya. Hujjah itu ada pada Al-Kitab dan Sunnah.

Ust. Nashih berkata“Imam as-Suyuthi mengarang dua kitab sekaligus untuk menguatkan fakta bahwa orang tua Muhammad SAW akan selamat. Kedua kitab itu bertajuk Masalik al-Hunafa fi Najat Waliday al-Musthafa dan at-Ta’dhim wa al-Minnah bi Anna Waliday al-Mushthafa fi al-Jannah. Selain kedua kitab tersebut, ada deretan karya lain para ulama, seperti ad-Duraj al-Munifah fi al-Aba’ as-Syarifah, Nasyr al-Alamain al-Munifain fi Ihya al-Abawain as-Syarifain, al-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah al-Musthafawiyyah, dan as-Subul al-Jaliyyah fi al-Aba’ al-Jaliyyah. Masih banyak kitab lain yang membantah dugaan bahwa orang tua Rasul akan masuk neraka”.

Jawab:
Banyaknya kitab tanpa hujjah, tak ada nilainya jika tak ditopang dengan hujjah.

Ust. Nashih berkata, “Dar al-Ifta memaparkan, mengacu ke deretan kitab tersebut, kedua orang tua Rasul hidup pada masa fatrah atau kekosongan risalah. Ketika itu, dakwah tidak sampai pada masyarakat Makkah. Ulama ahlussunnahsepakat, mereka yang hidup pada periode kevakuman risalah itu dinyatakan selamat. Ini merujuk pada ayat ke-15 surah al-Isra’ di atas”.
Jawab:
Acuan yang terbaik adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Adapun pengakuan Ust. Nashih bahwa dakwah belum sampai pada masyarakat Makkah, maka ini adalah klaim batil. Dalam sejarah telah disebutkan bahwa kelompok hunafa’ yang masih menjaga agama Islam yang dibawa oleh Ibrahim, hidup bersama dengan masyarakat Quraisy. Ini menunjukkan bahwa hujjah telah sampai kepada mereka. Demikian pula kaum hunafa’ yang mempertahankan Islam yang mereka warisi dari Isa –alaihis salam- juga terdapat di Makkah, seperti Waroqoh bin Naufal.

Kesepakatan (ijma’) yang disebutkan oleh si Wartawan ini, sekali lagi tak benar. Bagaimana bisa masalah khilaf dikatakan ijma’?!.

Ust. Nashih berkata,“Tuduhan bahwa keduanya termasuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah dengan berhala, tidak benar. Abdullah dan Aminah tetap konsisten dalam keautentikan agama Ibrahim, yaitu tauhid. Fakta kesucian keyakinan kedua orang tua Rasul ini dikuatkan antara lain oleh Imam al-Fakhr ar-Razi dalam kitab tafsirnya Asrar at-Tanzil kala menafsirkan ayat ke 218-219 surah as-Syu’ara”.[7].

Jawab:
Ini adalah ucapan perasaan, bukan ucapan ilmiah!! Pendapat yang menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah musyrik bukanlah tuduhan. Sebab, kalau tuduhan, maka berarti hanya dilandasi oleh asumsi!!! Padahal tidaklah demikian!!!! Ulama yang menyatakan musyriknya kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melandasi pendapatnya dengan sejumlah hadits shohih lagi gamblang sebagaimana telah kami bawakan tadi.

Ust. Nashih berkata
“Imam as-Suyuthi menambahkan, dalil lain tentang fakta bahwa garis keturunan Rasul yang terdekat terjaga dari aktivitas penyimpangan akidah. Ini seperti ditegaskan hadis bahwa Rasululllah dilahirkan dari garis nasab yang istimewa dan terpilih yang konsisten terhadap tauhid”.

Jawab:
Ucapan ini batil!! Sebab, ia akan mengharuskan bahwa semua kakek Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- ke atas adalah muslim, bukan musyrik. Syarat bahwa garis keturunan Rasul yang terdekat terjaga dari aktivitas penyimpangan akidah. Andaikan terjaga, maka pasti Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak perlu mendakwahi paman-pamannya yang merupakan keluarga terdekat beliau. Tapi nyatanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tetap menasihati mereka, bahkan memerangi mereka.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- memang dipilih dari nasab yang mulia dan terhormat di kalangan bangsa Arab. Namun hal itu tak mengharuskan bahwa kakek-kakek dan keluarga dekat beliau jauh dari penyimpangan aqidah.

Ust. Nashih berkata“Imam as-Suyuthi kembali menerangkan soal hadis Muslim pada paragraf pertama. Tambahan redaksional “Dan ayahku di neraka” sangat kontroversial di kalangan pengkaji hadis. Para perawi tidak sepakat tambahan tersebut. Sebut saja al-Bazzar, at-Thabrani, dan al-Baihaqi yang lebih memilih tambahan redaksi “Jika engkau melintasi kuburan orang kafir maka sampaikan berita neraka” dibanding, imbuhan bermasalah tersebut”.

Jawab:
Syubhat ini kami akan jawab dalam beberapa sisi:

1) Jika suatu hadits telah shohih dan tak ada cacatnya, lalu ada yang sepaham dengannya, maka hadits itu tak boleh dianggap kontroversial hanya karena ingin menolaknya.

2) Adapaun As-Suyuthiy menguatkan riwayat lain dari Ma’mar bin Rosyid Al-Azdiy dibandingkan riwayat Hammad bin Salamah[8], maka ini adalah pendapat yang keliru dari beliau. Sebab para ulama kita telah menjelaskan bahwa jika Hammad bin Salamah meriwayat suatu hadits dari Tsabit Al-Bunaniy, maka ia adalah orang yang kuat riwayatnya dari Al-Bunaniy.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- berkata,

حماد بن سلمة أثبت في ثابت من معمر

“Hammad bin Salamah lebih kuat pada Tsabit dibandingkan Ma’mar”. [Lihat Al-Jarh wa At-Ta'dil (3/141) oleh Ibnu Abi Hatim, cet. Dar Ihya' At-Turots Al-Arobiy].

Diantara perkara yang menguatkan riwayat Hammad dan melemahkan riwayat Ma’mar bahwa Muslim seringkali meriwayatkan hadits Hammad dari Tsabit dalam golongan hadits-hadits ushul (pokok). Lain halnya dengan Ma’mar, walaupun beliau adalah tsiqoh, hanya saja para ulama hadits telah melemahkan secara khusus riwayat Ma’mar dari Tsabit Al-Bunaniy. Sisi lain, Imam Muslim dalam Shohih-nya tidaklah meriwayatkan dari Ma’mar dari Tsabit, kecuali sebuah riwayat saja dalam golongan hadits mutaba’at (pendukung) dan diiringi oleh rawi lain yang bernama Ashim Al-Ahwal. Semua ini adalah bukti bagi kita semua tentang kelemahan riwayat Ma’mar dari jalur Tsabit.

Lantaran itu, Ibnu Ma’in -rahimahullah- berkata,

معمر، عن ثابت: ضعيف.

“Ma’mar dari Tsabit adalah lemah”. [Lihat Mizan Al-I'tidal (4/154)].

Para pembaca yang budiman, dengan keterangan ini, jelaslah bahwa perbandingan yang dilakukan oleh As-Suyuthiy antara kedua rawi itu adalah perbandingan yang salah dan terbalik. Justru riwayat Hammad bin Salamah adalah riwayat yang kuat, sedang riwayat Ma’mar dari Tsabit adalah lemah lagi munkar!!.

Ust. Nashih berkata
“Ada banyak argumentasi yang membantah dugaan bahwa kedua orang tua Rasul akan masuk neraka. Semestinya, tuduhan tersebut tidak ditudingkan kepada ayahanda dan ibunda Rasul yang terhormat. Karena, itu adalah bentuk arogansi terhadap Rasul”.

Jawab:
Argumentasi sebanyak apapun bila tak ditopang oleh dalil, maka ia bagaikan buih yang tak bernilai di lautan. Pernyataan bahwa kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- akan masuk neraka, bukanlah tudingan dan tuduhan. Bahkan ia adalah pernyataan dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sendiri berdasarkan wahyu dari Allah -Azza wa Jalla-. Jadi, tak benar jika hal itu dianggap sebagai arogansi!!! Justru pernyataan yang menyatakan bahwa kedua orang tua beliau akan masuk surga adalah sikap arogan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sebab, si pengucapnya telah menyalahi sejumlah hadits yang menyatakan keberadaan orang tua beliau di neraka!!.

Ust. Nashih berkata
“Qadi Abu Bakar Ibn al-Arabi pernah ditanya soal topik serupa. Tokoh bermazhab Maliki ini pun menjawab, bila soal itu direspons dengan jawaban bahwa keduanya masuk neraka maka terlaknatlah orang yang menjawab demikian. Menganggap keduanya ahli neraka adalah bentuk melukai perasaan Rasul. “Tak ada penganiayan lebih besar ketimbang menyebut kedua orang tua Muhammad SAW penghuni neraka,” kata Ibn al-Arabi”.

Jawab :
Jika ucapan ini betul dari Ibnul Arabiy Al-Malikiy -rahimahullah-, maka ucapan ini kita tolak karena menyelisihi hadits Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dalam pembahasan seperti ini, seseorang tak boleh berpegang dengan ro’yu (pendapat semata) dan perasaannya. Intinya, ada tidak dalilnya. Jika ada dalilnya, maka kita ambil pendapat yang didukung oleh dalil.

Jika setiap orang menguatkan pendapat dengan perasaan, maka hancurlah agama ini!!.

Kemudian Ust. Nashih membawakan kisah Umar bin Abdil Aziz -rahimahullah- yang marah saat mendengar ada pegawainya yang menyatakan kafirnya kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kita katakan bahwa andaikan kisah ini benar, maka kita berbaik sangka kepada beliau bahwa mungkin beliau belum pernah mendengar hadits-hadits yang menyatakan kafirnya kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana hal ini juga mungkin dialami oleh Ibnul Arabiy -rahimahumallah-.

Ust. Nashih berkata“Atas dasar inilah, seyogianya tidak mudah menjustifikasi status kedua orang tua Rasul. Mantan Mufti Dar al-Ifta, Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’I, mengimbau supaya umat berhati-hati. Tuduhan kekufuran Abdullah dan Aminah salah besar dan pelakunya berdosa”.
Jawab :
ini adalah sikap yang menyelisihi petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, dimana beliau telah menjelaskan kepada umatnya bahwa kedua orang tua beliau adalah kafir dan akan masuk neraka!!

Ini bukanlah justifikasi (putusan yang didasari hati nurani) semata, bahkan ia adalah wahyu yang Allah sampaikan melalui lisan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kesimpulan
Demikianlah diskusi ringan dengan Ustadz Nashih Nashrullah, Wartawan Republika yang telah berbicara panjang lebar, tanpa dasar hujjah dari Al-Qur’an dan Sunnah[9].

Sebagai kesimpulan dan penutup, kami nukilkan kepada anda sebuah ucapan yang kokoh dari seorang ahli hadits dari Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- saat beliau membantah As-Suyuthiy dan lainnya, usai menguatkan hadits di atas, “Ketahuilah –wahai saudaraku yang muslim- bahwa sebagian orang pada hari ini dan sebelum hari ini, tak ada kesiapan pada mereka untuk menerima hadits-hadits yang shohih ini dan mengadopsi sesuatu yang ada di dalamnya berupa hukum kafir bagi kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Bahkan sungguh diantara mereka ada yang dianggap termasuk dai (yang mengajak) kepada Islam, betul-betul ia mengingkari dengan pengingkaran yang keras terhadap penyebutan hadits-hadits ini dan penunjukannya yang benar!!.

Menurut keyakinanku, pengingkaran ini dari mereka hanyalah tertuju kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang telah mengucapkannya, jika memang mereka membenarkannya. Ini –sebagaimana telah tampak- adalah kekafiran yang nyata; atau paling minimal (pengingkaran itu) tertuju kepada para imam yang telah meriwayatkan dan menyatakannya shohih. Ini merupakan kefasikan atau kekafiran yang nyata. Karena terharuskan darinya sikap yang membuat kaum muslimin terhadap agamanya. Sebab, tak ada jalan bagi mereka untuk mengenal dan mengimani agamanya, kecuali dari jalur Nabi mereka -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana hal ini tak samar bagi setiap muslim yang mengenal agamanya.

Jika mereka tidak membenarkannya, karena tidak cocoknya hadits-hadits ini terhadap perasaan dan keinginan mereka -sedangkan manusia dalam perkara seperti itu berbeda dengan perbedaan yang amat mencolok-[10], maka di dalam seperti itu ada pembuka pintu besar sekali dalam menolak hadits-hadits shohih. Ini adalah perkara yang disaksikan pada hari dari kebanyakan penulis-penulis yang kaum muslimin terkena bala (ujian) akibat tulisan-tulisan mereka, seperti Al-Ghozaliy, Al-Huwaidiy, Bulaiq, Ibnu Abdil Mannan dan semisalnya dari kalangan orang-orang yang tidak memiliki timbangan dalam men-shohih-kan hadits-hadits dan melemahkannya, kecuali hawa nafsu mereka.

Ketahuilah wahai muslim –yang khawatir atas agamanya karena dirobohkan dengan pena-pena sebagian orang yang menisbahkan diri kepadanya — bahwa hadits-hadits ini dan semisalnya yang di dalamnya terdapat pengabaran tentang kafirnya beberapa person (pribadi) dan keimanan mereka. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara-perkara gaib yang wajib diimani dan diterima dengan pasrah, berdasarkan firman Allah -Ta’ala-,

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ (3) [البقرة/1-3

“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka”. (QS. Al-Baqoroh : 1-3), Dan firman-Nya,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ …(36) [الأحزاب/36

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka”.(QS. Al-Ahzab : 36).

Jadi, berpaling dari hadits-hadits itu dan tidak beriman kepadanya, maka terharuskan darinya dua hal, tak ada yang ketiganya. Yang paling manisnya adalah pahit: entah pendustaan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan entah pendustaan terhadap rawi-rawinya yang tsiqoh sebagaimana yang telah berlalu.

Ketika aku menulis ini, aku tahu bahwa sebagian orang-orang yang mengingkari hadits-hadits ini atau menakwilnya dengan takwil yang batil sebagaimana yang dilakukan oleh As-Suyuthiy –semoga Allah memaafkan kami dan beliau- dalam sebagian risalah-risalahnya. Yang menyeret mereka kepada hal itu hanyalah ghuluw (sikap berlebihan)nya mereka dalam mengagungkan dan mencintai Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Akhirnya, mereka mengingkari keberadaan kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- –sebagaimana yang dikabarkan oleh beliau sendiri tentang keduanya–, sehingga seakan-akan mereka lebih sayang atas keduanya dibandingkan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!

Terkadang sebagian diantara tidak berhati-hati untuk condong kepada sebuah hadits yang masyhur pada lisan sebagian orang yang di dalamnya (dijelaskan) bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menghidupkan ibu beliau. Dalam suatu riwayat, “…kedua orang tua beliau”. Itu adalah hadits palsu lagi batil di sisi para ulama, seperti Ad-Daruquthniy, Al-Jauroqoiy, Ibnu Asakir, Adz-Dzahabiy, Al-Asqolaniy dan selainnya sebagaimana hal ini telah dijelaskan pada tempatnya. Rujuklah –kalau anda mau- “Kitab Al-Abathil wal Manakir” oleh Al-Jauroqoniy dengan ta’liq (komentar) dari Doktor Abdur Rahman Al-Furyawa’iy (1/222-229).

Ibnul Jawziy berkata dalam Al-Mawdhu’at (1/284), “Ini adalah hadits palsu, tanpa ragu. Orang yang memalsukannya adalah kurang pemahaman lagi tak berilmu. Sebab, andaikan ia punya ilmu, maka ia akan tahu bahwa barangsiapa yang mati kafir, maka keimanannya tak akan berguna setelah ia dikembalikan (ke dunia). Bahkan tidak pula andaikan ia beriman saat ia melihat (malaikat maut). Cukuplah yang membantah hadits (palsu) ini, firman Allah -Ta’ala-,
فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِر [البقرة/217]

“…lalu dia mati dalam kekafiran…” (QS. Al-Baqoroh : 217)[11]. Dan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam Kitab Shohih,

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لأُمِّى فَلَمْ يَأْذَنْ لِى

“Aku meminta izin kepada Robb-ku untuk memohonkan ampunan bagi ibuku. Namun Dia tak memberiku izin”.[12].

Syaikh Abdur Rahman Al-Yamaniy -rahimahullah- sungguh amat baik ucapan beliau mereka ini dengan ungkapan yang terang lagi ringkas, dalam komentar beliau terhadap Al-Fawa’id Al-Majmu’ah fil Ahadits Al-Mawdhu’ah, karya Asy-Syaukaniy dengan . Beliau berkata (hal. 322), “Seringkali rasa cinta mengalahkan sebagian orang. Akhirnya, ia pun melangkahi hujjah dan memeranginya. Barangsiapa yang diberi taufiq, niscaya ia akan mengetahui bahwa hal itu menyalahi cinta yang syar’i. Wallahul Musta’an”.

Aku katakan, “Diantara orang yang dikalahkan oleh rasa cinta, As-Suyuthiy –semoga Allah memaafkannya-. Karena, ia cenderung men-shohih-kan hadits tentang menghidupkan (ibu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) yang batil di sisi para ulama besar sebagaimana yang telah berlalu.

Sungguh ia (As-Suyuthiy) berusaha dalam kitabnya Al-La’ali (1/265-268) untuk mengompromikan antara hadits ini dengan hadits permintaan izin ini dan yang semakna dengannya bahwa ia (hadits tentang permintaan izin Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) adalah mansukh (terhapus hukumnya). Padahal ia tahu dari ilmu ushul bahwa penghapusan hukum tak akan terjadi dalam berita-berita, hanyalah dalam hukum-hukum. Demikian itu, karena tak masuk akal kalau orang yang benar lagi dibenarkan (yakni, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) mengabarkan tentang seseorang bahwa ia di neraka, lalu beliau menghapusnya lagi dengan sabdanya, “Sesungguhnya ia di surga”, sebagaimana hal ini telah jelas lagi dikenal di sisi para ulama.

Di antara kekalahan As-Suyuthiy dalam hal itu, ia berpaling dari menyebutkan hadits Muslim dari Anas yang cocok dengan hadits dalam judul dengan sikap berpaling secara mutlak dan ia tak mengisyaratkan hadits itu sedikitpun. Bahkan ia sungguh telah digelincirkan oleh pena dan bersikap ekstrim. Akhirnya, ia pun menghukumi hadits itu[13]. Akhirnya ia hukumi hadits itu lemah dalam keadaan ia bergantung (berpegang) dengan komentar sebagian diantara mereka tentang riwayat Hammad bin Salamah. Padahal ia tahu ia (Hammad) adalah termasuk diantara para imam kaum muslimin dan orang tsiqoh diantara mereka dan bahwa riwayat Hammad dari Tsabit adalah shohih. Bahkan Ibnul Madini, Ahmad dan lainnya berkata, “Murid-murid Tsabit yang paling kuat adalah Hammad, lalu Sulaiman, lalu Hammad bin Zaid”. Sedang ia (riwayat-riwayat itu) shohih.

Pelemahan As-Suyuthiy tersebut aku pernah membacanya sejak dulu sekali dalam sebuah risalahnya tentang hadits menghidupkan (ibu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-), cetakan India. Tanganku tak mampu menjangkaunya sekarang agar aku dapat menukil ucapannya dan meneliti kesalahan-kesalahannya. Silakan dirujuk risalah itu bagi orang yang mau mengecek.

Sungguh diantara pengaruh pelemahannya terhadap hadits itu, aku perhatikan ia berpaling dari menyebutkan hadits itu juga dalam sesuatu diantara kitab-kitabnya yang mencakup segala yang ada, seperti Al-Jami’ Ash-Shoghier wa Ziyadatih dan Al-Jami’ Al-Kabir. Oleh karena itu, Kanzul Ummal kosong dari hadits itu. Wallahul Musta’an walaa haula walaa quwwata illa billah.

Perhatikanlah perbedaan antara As-Suyuthiy dengan Al-Hafizh Al-Baihaqiy yang telah mendahulukan keimanan dan pembenaran atas perasaan dan hawa nafsu. Karena, Al-Baihaqiy tatkala menyebutkan hadits,

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ غَيْرِ سِفَاحٍ

“Aku keluar (lahir) dari suatu pernikahan, bukan zina”.[14].

Beliau (Al-Baihaqiy) berkata setelahnya, “Kedua orang tua beliau (Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) adalah musyrik berdasarkan (hadits) yang telah kami kabarkan”. Kemudian beliau membawakan hadits Anas ini [15]dan hadits Abu Hurairah yang telah berlalu [16] tentang ziarahnya beliau ke kubur ibunya -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [Lihat Ash-Shohihah (6/180-182) karya Al-Albaniy].

Faedah Penting

Risalah yang paling bagus tentang keberadaan orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah risalah yang ditulis oleh Syaikh Ibrahim Al-Halabiy -rahimahullah-, seorang imam dan khothib di Masjid Jami’ As-Sulthon Muhammad Al-Fatih (wafat 945 H) dengan judul Risalah fi Abawair Rasul Shollallahu alaihi wa sallam, dengan tahqiq Ali Ridho Al-Madaniy, cet. Darul Ma’arij, 1429 H.

Di dalamnya, Penulis tersebut membantah syubhat-syubhat orang-orang yang menyatakan bahwa orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- akan masuk surga dan keduanya adalah muslim!! Beliau menetapkan dengan hujjah yang kuat dan sulit dibantah bahwa kedua orang tua Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kafir dan akan masuk neraka!!.
____________

[1] Ia adalah seorang alumnus Al-Azhar Mesir asal Tuban yang pernah nyantri di Denanyar Jombang dan lanjut di SPS UIN Syahid Jakarta. Belakangan ia menjadi wartawan Republika, Jakarta. Orang ini punya beberapa tulisan yang agak sedikit nyeleneh jika ditinjau dari sisi syar’iy.
[2] Lihat http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/13/06/21/moq4id-apakah-kedua-orang-tua-rasulullah-saw-akan-masuk-surga.
[3] Adapun tulisan ini, insya Allah kami landasi dengan dalil yang kuat, dan jelas dari sejumlah hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dengannya, anda akan melihat sisi kuat argumen ulama yang menyatakan kafirnya kedua orang tua Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.
[4] Meninggalkan ucapan mereka, bukan berarti kita merendahkan mereka. Bahkan memuliakan mereka, karena kita tidaklah mengangkatnya pada derajat rasul yang ma’shum.
[5] Lihat Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih (2/91)oleh Ibnu Abdil Barr.
[6] Hadits ini sedikit diperbincangkan oleh sebagian ulama. Walaupun sebagian lagi –seperti Syaikh Al-Albaniy- memandang bahwa hadits ini dapat dikuatkan oleh riwayat lain yang semakna dengannya.
[7] Jangan dipahami bahwa ayat yang diisyaratkan Ust. Nashih merupakan dalil bagi pendapatnya. Sama sekali bukan!! Tak ada kaitannya. Ayat itu hanya berbicara tentang sholatnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
[8] Jadi, As-Suyuthiy melemahkan riwayat Hammad bin Salamah. Ini adalah pendapat lemah sebagaimana kami akan jelaskan, insya Allah.
[9] Itu tampak dari artikel yang ia tulis di situs Republika. Ia menyajikan materi dan membuat kesimpulan tanpa membawakan sebuah hadits pun. Padahal ia berbicara tentang agama. Andaikan ia bicara tentang dunia, yah mungkin wajar kalau tak ada dalilnya.
[10] Yakni, dalam hal perasaan!! Sebab perasaan manusia bertingkat dan beragam, sehingga perasaan tak boleh dijadikan tolok ukur dalam menetapkan suatu perkara yang berkaitan dengan agama. Jika perasaan dituruti, maka hancurlah agama ini!!.
[11] Kelengkapan ayat ini, bunyinya,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواوَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [البقرة/217]

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqoroh : 217).
[12] HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 976).
[13] [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 203)]. Ini adalah hadits pertama dalam tulisan kami. Haditsnya shohih dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
[14] HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (7/190).
[15] Maksudnya, dalil pertama dalam tulisan kami ini.
[16] Maksudnya, dalil ketiga dalam tulisan kami ini.

Judul Asli Artikel :
Sanggahan terhadap Wartawan Republika [Kedua Orang Tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di Neraka].

http://pesantren-alihsan.org/sanggahan-terhadap-wartawan-republika-kedua-orang-tua-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-di-neraka.html
»»  READMORE...


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger